History



Latar Belakang
Oleh Adhirga Romadhona
Pada satu dekade terakhir, Banjarnegara sudah mengadakan beberapa acara kesenian yang dapat menarik perhatian masyarakat luas. Bahkan kegiatan Dieng Culture Festival yang sudah mampu berjalan dua tahun berturut-turut mendapat respon yang sangat positif dari masyarakat internasional. Mengaca pada keberhasilan acara tersebut maka dapat digambarkan bahwa masyarakat Banjarnegara sesungguhnya memiliki banyak potensi yang bersifat seni kreatif. Banyaknya potensi tersebut kini terjadi di Banjarnegara dengan semakin banyak komunitas-komunitas yang muncul dari masing-masing elemen kesenian tersebut.

Hal ini bukan berarti kegiatan yang bersifat kreatif dapat sepenuhnya terjangkau oleh semua kalangan. Masih banyak beberapa kalangan yang memiliki bakat dalam bidang seni atau hanya ingin menikmati seni, namun belum mampu menyentuh media-media yang mereka butuhkan. Melihat adanya potensi-potensi yang belum tertampung dalam sebuah ruang maka dapat diambil dalam sebuah gambaran umum bahwa Banjarnegara membutuhkan ruang khusus untuk mengembangkan seni dan ditujukan untuk siapapun yang ingin mengembangkan kemampuannya dalam bidang kesenian dan bagi yang ingin menikmati seni.

Gagasan
Oleh Galih Prabowo
Seni di Banjarnegara selama ini selalu menjalani masa kritis atau selalu dekat dengan kematian. Apalagi untuk kaum muda di Banjarnegara, kaum muda yang berkecimpung di kesenian hampir selalu dianggap sebagai anak bawang oleh para seniman senior ( baca: Pemerintah ). Kaum muda seakan tidak diberi ruang tersendiri oleh pemerintah. Kesenian itu selalu berkembang, dan itu adalah hal mutlak yang akan terjadi terus menerus. Kaum muda Banjarnegara sendiri sangat menyadari akan perkembangan seni dan mereka terus mengikuti perkembangan tersebut, sedangkan para senior tidak menyadari dan tidak mengikuti hal tersebut sama sekali. Para senior hanya mementingkan eksistensi mereka tanpa konsistensi dan berpikiran kolot tentang pemikiran seni menurut mereka sendiri adalah suatu hal yang sangat benar, bahkan kualitas kebenarannya melebih kebenaran Tuhan. Padahal banyak sekali kaum muda Banjarnegara yang berkecimpung didunia seni dan mereka berhasil, sebut saja Hafidz Novalsyah yang pernah menjadi fotografer majalah National Geographic Traveller Indonesia, lalu ada Daniel Satyagraha anggota MES56 yang telah malang melintang berpameran diluar negeri lewat fotografi kontemporernya. Masih ada Bayu Bergas yang menjadi Direktur Program Festival Film Solo, dan saya yakin masih banyak kaum muda yang lainnya. Dan saya meyakini mereka semua bakal berpikir beribu-ribu kali untuk kembali ke Banjarnegara dan mengembangkan seni dikota mereka sendiri.

Ruang adalah bentuk nyata apresiasi dalam berkesenian, dan itu mutlak untuk  para seniman dan penikmati seni. Selain bentuk nyata apresiasi bisa juga menjadi media pembelajaran tapi Banjarnegara tidaklah mempunyai ruang tersebut, bahkan jika ada ruang tersebut saya yakin kaum muda bakal tersingkir oleh seniman senior, entah itu oleh pemikirannya atau oleh apapun. Seniman muda Banjarnegara selama ini bergerak secara independen atau personal, mereka mencari celah untuk berkesenian dengan cara mereka masing-masing, dan mereka mempercayai satu hal : dengan atau tanpa pemerintah sekalipun, mereka bisa berjalan sendiri untuk kesenian mereka. Seniman muda di Banjarnegara sangatlah membutuhkan ruang, karena jika tidak ada ruang untuk seni maka lambat laun mereka bakal mengembangkan kesenian mereka diluar Banjarnegara. Godonggedhang mungkin bukanlah jawaban untuk sekarang ini dan bukanlah sesuatu hal yang besar. Tapi kami akan berusaha menjadi sebuah jawaban di masa mendatang dan menjadi sebuah hal yang besar karena kami meyakini bahwa hal kecil adalah awal mula hal yang besar walaupun langkah kami untuk sekarang ini masih terseok-seok. 

0 komentar:

Posting Komentar