“Dendam… menjadi energi besar yang mendorong saya untuk terus menulis. Saya tak mau dilupakan sejarah. Saya mau jadi orang yang berkesadaran sejarah. Maka saya memutuskan untuk menulis.”
– Fahd Djibran
BANJARNEGARA
– Sebanyak 12 orang peserta terseleksi mengikuti serangkaian acara Kelas
Menulis seri pertama yang diinisiasi oleh Godong Gedang Banjarnegara. Acara yang bertajuk “Sinau Bareng: Jurnalisme
Warga” atau sering disingkat dengan hashtag #SBJW ini dihelat mulai tanggal
20-23 Februari 2014 selama kurang lebih tiga jam setiap harinya. Hari pertama
dan kedua, kelas dihadiri oleh seorang dosen Hubungan Internasional UGM, Suci
Lestari Yuana. Wanita yang akrab disapa dengan panggilan Nana ini, memberikan
materi mengenai penulisan dan bagaimana tulisan bisa membuat perubahan. Selain
itu, ia juga memutarkan film berjudul Freedom
Writers, yang kaya akan makna dari semangat menulis. Pada kesempatan itu, Nana
banyak memotivasi peserta #SBJW dalam hal menulis dan semangat membuat perubahan
dengan memperhatikan dan peka terhadap lingkungan sekitar, khususnya
Banjarnegara.
Setelah peserta
dimanjakan dengan motivasi yang membuat mereka semangat untuk menulis, di hari
ketiga dan keempat, para peserta mendapatkan materi mengenai dasar-dasar
penulisan dan hal-hal yang berkaitan dengan teknis penulisan oleh Castro
Suwito, Wartawan Suara Merdeka. Castro, yang sudah berkecimpung pada dunia
jurnalis sejak berada di bangku kuliah, banyak berbagi mengenai tips dan trik
dalam menulis sebuah berita sehingga dapat diandalkan validitasnya dan tetap
menarik untuk dibaca. Dengan sepak terjangnya sebagai wartawan yang mencari
informasi seputar daerah, Castro juga memperkaya para peserta dengan informasi terbaru
dan fenomena yang terjadi di Banjarnegara.
Pada akhir
kelas, para peserta berinisiatif untuk tetap berkumpul dan membuat bulletin mengenai
Banjarnegara dari prespektif kaum mudanya, sebelum akhirnya berencana untuk
meluncurkan sebuah buku karya bersama. Kelas Menulis seri kedua rencana akan
dilaksanakan pada pertengahan tahun 2014 dengan tema yang berbeda. Harapannya, kelas
menulis tersebut dapat mencetak kaum muda Banjarnegara yang berpikir kritis dan
sistematis, gemar mencatat sejarah, dan berani melakukan perubahan. Mari
berkontribusi untuk Banjarnegara!














