Sabtu, 14 September 2013

Hampir Gelap Menang SSFF 2013


Hampir Gelap adalah film penerima penghargaan film terbaik dalam Smansabara Short Film Festival (SSFF) 2013, festival film pendek ini adalah rangkaian dari acara HUT Smansabara yang ke-52 tahun. Film pendek ini mengangkat tema yang sederhana dan memiliki gagasan yang dalam. Yang ingin dikatakan oleh film ini adalah sebuah cita-cita harus diimpikan sejak masa kecil, yang bercerita tentang seorang anak kecil yang bermain perang menggunakan tulup (mainan dari bambu kecil sebagai senjata dan kertas yang dibasahi sebagai pelurunya), dia bermain dengan teman-temannya dan pada saat bermain anak kecil tersebut tertidur. Didalam tidurnya dia bermimpi sedang terlibat dalam sebuah perang yang sesungguhnya.

Film ini sangatlah sederhana, namun ide yang terkandung dalam film ini bersifat universal, bisa diterapkan di segala aspek kehidupan. Disamping itu pengemasan dan penyajian film ini dilakukan dengan baik, sehingga ide film ini bisa disampaikan dengan jujur. Aspek-aspek yang terkandung di film ini pun saling mendukung dan terkait. Dibandingkan dengan 27 film lainnya di SSFF 2013, film ini adalah yang paling beda, film ini berani mengeksplorasi ide cerita yang sederhana menjadi sebuah gagasan yang kuat dan dalam, lewat seorang anak kecil dan cita-citanya. Dari total 28 film pendek yang masuk ke SSFF 2013 kemarin, cuma ada beberapa film yang diakhir ceritanya tidak mengangkat tentang ironi kematian dalam sebuah keluarga, dan memang Hampir Gelap adalah yang paling beda. Yuk pulang, Hampir Gelap!

Jumat, 13 September 2013

Bakul Dawet Diganjar Film Terbaik!


Kompetisi Film Pendek Festival Serayu Banjarnegara 2013 adalah rangkaian acara dari Festival Serayu Banjarnegara 2013 yang diekspektasikan oleh Pemkab Banjarnegara sebagai event terbesar se-Jawa Tengah. Kompetisi film pendek ini khusus untuk pelajar Banjarnegara, dan jumlah film yang masuk ada 47 film pendek dari berbagai sekolah di Banjarnegara. Kompetisi ini bertujuan untuk menjadi pemicu agar pelajar Banjarnegara mendapatkan referensi dan pembelajaran produksi film pendek sebagai film yang memiliki nilai edukasi. Program yang dibuat untuk Kompetisi Film Pendek Festival Serayu Banjarnegara 2013 ini antara lain adalah workshop singkat dan screening (pemutaran) 15 film terpilih dan 5 film tamu sebagai referensi dalam 4 hari gelaran kompetisi ini.

Sebagian besar diantara 47 film yang masuk ke panitia sebenarnya memiliki sebuah ide cerita yang sederhana dan menarik, tapi film tersebut masih belum bisa tervisualkan secara baik kedalam sebuah film pendek. Hal ini sangat disayangkan karena film adalah tentang bagaimana kita menyampaikan sebuah cerita atau gagasan lewat audio dan visual kepada penonton sehingga pesan kita tersampaikan. Selain itu ide cerita yang rata-rata diangkat adalah hal-hal yang memang terjadi di Banjarnegara. Tapi sangat disayangkan dengan ide cerita yang sederhana dan menarik tersebut mengapa pada akhir cerita selalu saja ada salah satu pemeran yang mati? Film-film yang masuk ke Kompetisi Film Pendek Festival Serayu Banjarnegara 2013 kemarin hampir semua mengangkat ide cerita sederhana tapi pada akhir film selalu berakhir dengan ironi kematian. 

Di gelaran kompetisi pertama ini, penghargaan film terbaik jatuh kepada film “ Bakul Dawet “ produksi MTs Ma’arif Mandiraja, ide cerita dari film ini sangatlah sederhana dan menarik. Film ini menceritakan tentang fenomena kehidupan didalam satu keluarga, dimana seorang anak yang malu akan pekerjaan ayahnya sebagai penjual Dawet Ayu yang berjualan didekat sekolahnya. Sang anak sadar bahwa usaha ayahnya ini bisa maju ketika ada seorang ibu yang menawari usaha ayahnya untuk digandeng ke restoran besar milik ibu tersebut. Jalan cerita difilm ini memanglah datar, tetapi secara teknis dan penyampaian gagasannya kepada penonton sudah cukup kuat dan jelas. Dan yang paling sederhana dari film ini adalah tentang aspek sebuah keluarga, dan tanpa sebuah ironi kematian diakhir cerita film ini. Selamat MTs Ma’arif Mandiraja!