Jumat, 20 Desember 2013

#MariMenonton, Geliat Pecinta Film Banjarnegara



BANJARNEGARA - Apresiatif dan bermanfaat. Setidaknya dua kata tersebut pantas menggambarkan acara pemutaran dan diskusi film pendek terpilih dan terbaik FFS 2013 yang baru-baru ini diadakan oleh Godong Gedang Banjarnegara bekerjasama dengan Festival Film Solo (FFS). Acara yang bertajuk "Mari Menonton!" ini digelar pada Sabtu dan Minggu, 14 dan 15 Desember 2013 pukul 13.30-17.00. Auditorium Politeknik Banjarnegara dirasa cukup nyaman menjadi tempat bertemunya para pecinta film di Banjarnegara untuk berbagi ilmu dan informasi.

Ada sepuluh film pendek terpilih dan terbaik yang disajikan dalam pemutaran dan diskusi kali ini. Film-film tersebut adalah Pohon Penghujan (Jakarta), Sore Hari (Jakarta), Halaman Belakang (Palu), Umar Amir (Palu), Aku Kudu Piye, Tweeps? (Yogyakarta), Liburan Keluarga (Solo), Sinema Purnama (Pamulang), On The Way (Solo), Subuh (Yogyakarta), dan film proyek FFS 2013 yaitu Omnibus Solo. Pada kesempatan kali ini pula, Banjarnegara kedatangan tamu istimewa dari FFS yaitu Bayu Bergas (Direktur FFS) bersama dengan Wahyu Windriana (Cipta Visual FFS), Ancha Latief (Sutradara 'Umar Amir'), dan Luhki Herwanayogi (Sutradara 'Aku Kudu Piye, Tweeps?').

Pada hari pertama, sebanyak 77 orang penonton yang hadir berasal dari berbagai usia dan kalangan, mulai dari siswa dan guru SMP dan SMA, serta masyarakat umum. Setiap film memiliki kriteria umur tersendiri sehingga penonton harus menuliskan daftar hadir dan menunjukkan identitasnya sebelum masuk ke ruang screening. Setiap sesi pemutaran dilanjutkan dengan sesi diskusi bersama para tamu yang dihadirkan, dipandu oleh moderator Hadi Saputra, mahasiswa FFTv Institut Kesenian Jakarta. Mendoan, pisang goreng, kacang rebus, dan kopi/teh menjadi suguhan khas desa yang bisa dinikmati penonton pada saat istirahat. Di hari kedua, penonton yang hadir tidak sebanyak di hari pertama, namun keantusiasan mereka ditunjukkan dengan pertanyaan variatif yang terlontar pada saat diskusi. Apalagi penonton diberi kesempatan berdiskusi melalui Skype bersama Andra Fembrianto (Sutradara 'Sinema Purnama').

Program Mari Menonton ini merupakan salah satu program Godong Gedang Banjarnegara dengan tujuan untuk memberikan tontonan yang berkualitas kepada masyarakat Banjarnegara serta menghargai karya sineas muda Indonesia. Bukan hanya menonton saja, namun saling berbagi ilmu perihal perfilman yang dibutuhkan oleh para pecinta film. Nantinya, acara ini diharapkan dapat mengedukasi masyarakat sehingga muda-mudi Banjarnegara mulai bergeliat dan berproses untuk menghasilkan karya yang hebat. Mulai dari menonton dan berdiskusi untuk menghargai suatu karya. Mari menonton!

Jumat, 15 November 2013

Jumat, 08 November 2013

[Tips & Trik] Dos and Don'ts dalam Melakukan Liputan Lapangan

Saat Anda akan melakukan suatu liputan langsung ke lapangan dalam suatu acara, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan. Hal tersebut saya tulis berdasarkan pengalaman pribadi saya saat menjadi reporter lapangan untuk RSPD Suara Banjarnegara pada acara Kirab Hari Jadi Kabupaten Banjarnegara ke 180. Semoga bisa bermanfaat dan menambah referensi. Caio!


DOS:

1. Schedule Research. Cari tahu jadwal acaranya terlebih dahulu, mulai dari judul, tema/tajuk, jam dimulai, tempat pelaksanaan, siapa saja yang hadir, bagaimana susunan acaranya. Cari info sebanyak mungkin mengenai acara tersebut agar tidak terlewatkan banyak momen menarik.

2.  Siapkan amunisi. Persiapkan notebook dan pulpen, serta alat perekam (bisa kamera, maupun voice recorder) di dalam satu tempat sehari sebelumnya. Re-check sebelum berangkat meliput. Alat perekam sangat bermanfaat untuk membantu mendokumentasi apabila ada yang luput dari yang ditulis sehingga bisa dilihat ulang pasca-liputan.

3.      Bagi tugas. Jika Anda bersama partner yang lain, lakukan pembagian tugas yang jelas dan rinci. Seperti halnya bagian memegang alat perekam, mencatat hal-hal penting dan hasil wawancara, mencatat pandangan mata, dan melakukan wawancara.

4.   Fokuskan tujuan. Yakinkan diri Anda tentang apa yang akan Anda buat sebagai hasil liputan nanti. Ada beberapa jenis tulisan yang bisa dihasilkan:

- Berita liputan. Jika Anda ingin menuliskan sebuah berita liputan, kedepankan point 5W+1H. Cari info secara umum dan mencakup keseluruhan komponen acara ini. Usahakan menulis apa yang Anda lihat saja secara objektif, tanpa menyelipkan opini dan komentar pribadi Anda mengenai acara tersebut.

-  Esai. Kritik dan saran yang membangun sangat diperlukan untuk acara tersebut kedepannya. Jika Anda menginginkan menulis esai, hal penting yang harus diperhatikan adalah tentang deskripsi acara (1/3 dari tulisan keseluruhan); kelebihan dan kekurangan acara; opini Anda; serta kesimpulan dan saran.

-  Press Release. Menarik jika Anda bisa membuat suatu rilis pers yang memuat sesuatu yang menarik dari acara tersebut sehingga bisa menjual keunggulan lingkup yang lebih luas (dalam kasus saya adalah Banjarnegara). Rilis pers ini ditujukan untuk diterbitkan di media masyarakat. Rilis pers tidak harus berita tentang 5W+1H saja, namun berikan cerita menarik yang bisa mendorong lakon media menganggap karya Anda pantas untuk dipublikasikan. Contoh: Seorang Turis Asal Rusia Antusias Memarak Ikan di Festival Serayu Banjarnegara. Jual berita yang menarik yang fokus pada turis tersebut.

-  Cerita fiksi. Menjadi tulisan yang menarik saat anda bisa mengisahkan suatu liputan dengan menggunakan cerita yang fiksi namun tetap berdasarkan riset yang Anda lakukan. Baik dalam bentuk cerpen, puisi, maupun sajak lainnya.

5. Susun daftar pertanyaan secara umum yang akan digunakan saat wawancara; mengenai deskripsi acara, pendapat narasumber, dan harapan kedepan mengenai acara tersebut. Pertanyaan bagi narasumber secara khusus dapat dibuat saat ada di lapangan, memperhitungkan momen yang ada.

6. Pakailah pakaian yang simple namun sopan, seperti halnya sepatu kets, celana jins, kemeja, dan tas ransel. Buat diri Anda senyaman mungkin untuk berpindah dan bergerak.

7. Jika acara bersifat statis atau berpindah-pindah, siapkan kendaraan yang dibutuhkan. Misal: Kirab Panji Lambang Daerah Hari Jadi Banjarnegara yang harus dilakukan mulai dari Banjarmangu hingga Alun-alun. Bagi tugas dengan tim dan terus kejar menggunakan sepeda motor di depan rombongan kirab untuk mendapatkan momen.

8. Berangkat maksimal 30 menit sebelum acara dimulai. Perhatikan keadaan sekitar dan cari beberapa spot yang bisa Anda jamah untuk memaksimalkan liputan Anda. Jika jaraknya jauh, tentukan dimana saja Anda akan siaga.

9.  Cari celah! Ikuti acara yang ada dan cari celah untuk mendapatkan momen-momen yang menarik. Misalnya: Saat gunungan kirab diturunkan, ada seorang ibu yang sudah mempersiapkan kantong kresek kitam yang sangat besar untuk menghimpun hasil ‘rebutan’nya.

10.Kurang puas? Jangan takut untuk wawancara! Selain berguna untuk menyempurnakan validnya berita, wawancara juga berguna untuk menayakan subjektifitas dari peserta acara. Masih dengan contoh Ibu di atas, Anda bisa menanyakan alasan beliau membawa kantong keresek besar, dan apa makna gunungan baginya. Selain itu, Anda bisa mendapatakan penilaian masyarakat secara keseluruhan dengan cara bertanya. Malu bertanya, Anda mendapatkan nihil.

11.  Untuk wawancara, ada beberapa hal yang penting diperhatikan:

-    Siapkan alat perekam. Jika Anda sendirian, andalkan saja alat perekam dan tidak usahmenulis di notebook, karena hanya akan mengaburkan fokus Anda.

-    Sebelumnya, ajak narasumber bersalaman (tradisi Jawa yang sangat efektif untuk menunjukkan keramahan Anda pada narasumber). Selanjutnya perkenalkan diri Anda, darimana, dan sampaikan tujuan Anda. Mintalah izin untuk mewawancara, jika narasumber tidak berkenan, jangan dipaksakan dan langsung cari narasumber lain dengan mengucapkan terimakasih sebelumnya. Jika narasumber bersedia, cari tempat yang nyaman untuk mengobrol dan merekam suara (menjauhi noise yang berlebih).

-  Tanyakan dua atau tiga pertanyaan bagi narasumber biasa, dan tiga atau lebih pertanyaan bagi narasumber yang berwenang (dalam hal ini ketua panitia, pejabat, dsb)

-  Pertanyaan tambahan disampaikan dengan singkat dan tetap pada fokus bahasan.


DON’TS:

1.  Jangan mengajak teman yang tidak berkepentingan, karena hanya akan mengganggu kelancaran liputan.

2. Tidak perlu membawa barang dan uang yang terlalu banyak. Anda tidak akan membeli apapun selain barang-barang yang sangat penting seperti tarif parkir atau sumbangan.

3. Jangan biarkan baterai alat perekam ataupun kertas habis. Persiapkan matang-matang sehari sebelum liputan.

4. Saat melakukan wawancara, to the point! Jangan bertele-tele dan blunder. Jika ada pertanyaan tambahan, sampaikan dengan singkat dan jelas.


Aninda K. Dewayanti


Rabu, 06 November 2013

Sabtu, 14 September 2013

Hampir Gelap Menang SSFF 2013


Hampir Gelap adalah film penerima penghargaan film terbaik dalam Smansabara Short Film Festival (SSFF) 2013, festival film pendek ini adalah rangkaian dari acara HUT Smansabara yang ke-52 tahun. Film pendek ini mengangkat tema yang sederhana dan memiliki gagasan yang dalam. Yang ingin dikatakan oleh film ini adalah sebuah cita-cita harus diimpikan sejak masa kecil, yang bercerita tentang seorang anak kecil yang bermain perang menggunakan tulup (mainan dari bambu kecil sebagai senjata dan kertas yang dibasahi sebagai pelurunya), dia bermain dengan teman-temannya dan pada saat bermain anak kecil tersebut tertidur. Didalam tidurnya dia bermimpi sedang terlibat dalam sebuah perang yang sesungguhnya.

Film ini sangatlah sederhana, namun ide yang terkandung dalam film ini bersifat universal, bisa diterapkan di segala aspek kehidupan. Disamping itu pengemasan dan penyajian film ini dilakukan dengan baik, sehingga ide film ini bisa disampaikan dengan jujur. Aspek-aspek yang terkandung di film ini pun saling mendukung dan terkait. Dibandingkan dengan 27 film lainnya di SSFF 2013, film ini adalah yang paling beda, film ini berani mengeksplorasi ide cerita yang sederhana menjadi sebuah gagasan yang kuat dan dalam, lewat seorang anak kecil dan cita-citanya. Dari total 28 film pendek yang masuk ke SSFF 2013 kemarin, cuma ada beberapa film yang diakhir ceritanya tidak mengangkat tentang ironi kematian dalam sebuah keluarga, dan memang Hampir Gelap adalah yang paling beda. Yuk pulang, Hampir Gelap!

Jumat, 13 September 2013

Bakul Dawet Diganjar Film Terbaik!


Kompetisi Film Pendek Festival Serayu Banjarnegara 2013 adalah rangkaian acara dari Festival Serayu Banjarnegara 2013 yang diekspektasikan oleh Pemkab Banjarnegara sebagai event terbesar se-Jawa Tengah. Kompetisi film pendek ini khusus untuk pelajar Banjarnegara, dan jumlah film yang masuk ada 47 film pendek dari berbagai sekolah di Banjarnegara. Kompetisi ini bertujuan untuk menjadi pemicu agar pelajar Banjarnegara mendapatkan referensi dan pembelajaran produksi film pendek sebagai film yang memiliki nilai edukasi. Program yang dibuat untuk Kompetisi Film Pendek Festival Serayu Banjarnegara 2013 ini antara lain adalah workshop singkat dan screening (pemutaran) 15 film terpilih dan 5 film tamu sebagai referensi dalam 4 hari gelaran kompetisi ini.

Sebagian besar diantara 47 film yang masuk ke panitia sebenarnya memiliki sebuah ide cerita yang sederhana dan menarik, tapi film tersebut masih belum bisa tervisualkan secara baik kedalam sebuah film pendek. Hal ini sangat disayangkan karena film adalah tentang bagaimana kita menyampaikan sebuah cerita atau gagasan lewat audio dan visual kepada penonton sehingga pesan kita tersampaikan. Selain itu ide cerita yang rata-rata diangkat adalah hal-hal yang memang terjadi di Banjarnegara. Tapi sangat disayangkan dengan ide cerita yang sederhana dan menarik tersebut mengapa pada akhir cerita selalu saja ada salah satu pemeran yang mati? Film-film yang masuk ke Kompetisi Film Pendek Festival Serayu Banjarnegara 2013 kemarin hampir semua mengangkat ide cerita sederhana tapi pada akhir film selalu berakhir dengan ironi kematian. 

Di gelaran kompetisi pertama ini, penghargaan film terbaik jatuh kepada film “ Bakul Dawet “ produksi MTs Ma’arif Mandiraja, ide cerita dari film ini sangatlah sederhana dan menarik. Film ini menceritakan tentang fenomena kehidupan didalam satu keluarga, dimana seorang anak yang malu akan pekerjaan ayahnya sebagai penjual Dawet Ayu yang berjualan didekat sekolahnya. Sang anak sadar bahwa usaha ayahnya ini bisa maju ketika ada seorang ibu yang menawari usaha ayahnya untuk digandeng ke restoran besar milik ibu tersebut. Jalan cerita difilm ini memanglah datar, tetapi secara teknis dan penyampaian gagasannya kepada penonton sudah cukup kuat dan jelas. Dan yang paling sederhana dari film ini adalah tentang aspek sebuah keluarga, dan tanpa sebuah ironi kematian diakhir cerita film ini. Selamat MTs Ma’arif Mandiraja!

Selasa, 20 Agustus 2013

[KOMPETISI] Kompetisi Film Pendek Festival Serayu 2013

KOMPETISI FILM PENDEK FESTIVAL SERAYU 2013

26 - 30 Agustus 2013
 13.00-17.00WIB
Auditorium Politeknik Banjarnegara


Ketentuan dan peraturan kompetisi film pendek terlampir didalam pamflet. Khusus untuk pelajar di Banjarnegara. 

Jadwal :

26-27 Agustus 2013

Workshop Film Pendek

Pengisi Workshop :
- Adhirga Romadhona
- Fora Ginanjar Katamsi
- Hadi Saputra

28-29 Agustus 2013

Pemutaran Film Nominator Kompetisi Film Pendek Festival Serayu 2013

Pemutaran ini bersifat terbuka untuk umum, dan film yang diputar adalah film nominator peserta kompetisi film pendek Festival Serayu 2013.

30 Agustus 2013

Awarding Pemenang Kompetisi Film Pendek Festival Serayu 2013

KIRIM dan DATANG!

Senin, 19 Agustus 2013

[Kelas Film] #DolanMaringSekolah!



#DolanMaringSekolah
PEMUTARAN-DISKUSI-FILM PENDEK


20-24 Agustus 2013 

Jadwal :

1. SMP Negeri 1 Bawang  
    20 Agustus 2013
    09.00WIB 

2. SMP Negeri 2 Wanayasa
    21 Agutus 2013
    09.00WIB

3. SMP Negeri 4 Wanayasa
    21 Agustus 2013
    09.00WIB

4. SMA Negeri 1 Karangkobar
    21 Agustus 2013
    10.00WIB

5. SMP Negeri 1 Banjarmenagu
    22 Agustus 2013
    ( Dalam Konfirmasi )

6. MTS Mandiraja
    24 Agustus 2013
    10.00WIB

7. SMP Negeri 1 Rakit
    24 Agustus 2013
    12.00WIB 


Film pendek adalah tontonan alternatif yang jauh lebih baik dari televisi.
MARI MENONTON!

Jumat, 12 Juli 2013

Rembugan Film 2, Ilmu dalam Kesederhanaan




BANJARNEGARA - Sekelompok muda-mudi berkumpul di sebuah ruangan bekas kantor Dinas Industri dan Perdagangan Banjarnegara pada Sabtu (6/7) malam. Ajang berkumpul ini dikarenakan adanya pemutaran empat buah film independen karya mahasiswa Fakultas Film dan Televisi Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Film-film tersebut yaitu Kembang Api, SD Card 32gb, Mekar di Kolam, dan Sore Hari. Pada kesempatan ini, pihak penyelenggara yaitu Godong Gedhang dan Kita Harus Putar Film! berhasil mendatangkan dua diantara empat sutradara film yang diputar, mereka adalah Andrie Sasono, sutradara film Sore Hari, dan Tengku Iskandar, sutradara film Kembang Api, dimana keduanya terlibat langsung dalam pembuatan hampir semua film-film yang diputar. 

Acara berlangsung mulai pukul 20.15 hingga 23.00. Perlengkapan dan tempat yang digunakan begitu sederhana. Hanya berbekal tikar dan layar proyektor. Jamuan yang tersedia juga hanya kacang kulit dan air mineral. Namun, kehangatan suasana yang tercipta menjadi alasan para pemuda tersebut untuk bertahan demi ilmu dan teman baru yang bisa memperluas wawasan, bukan hanya sekadar nongkrong di sepanjang jalan Pemuda dan melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat

Sebelumnya, Rembugan Film sudah pernah diadakan, yaitu pada bulan Maret 2013 di tepian sungai serayu The Pikas Resto and Artventure. Rembugan Film pertama dihadiri oleh Bowo leksono, punggawa film asal Purbalingga, dan juga Hadi Saputra, mahasiswa FFTv IKJ. Sebagai sebuah kegiatan positif yang mengarah pada seni kreatif ini diharapkan bisa menjadi sarana alternatif bagi anak muda Banjarnegara dalam menyalurkan hobi dan minat pada seni secara positif dan menjadi media untuk mengasah kepekaan produsen film lokal agar bisa bersaing di kancah yang lebih luas.

Kamis, 13 Juni 2013

[REMBUGAN FILM] Kali Kedua, Gratis!



 6 JULI 2013
19.30WIB-SELESAI
KANTOR KADIN ( UTARA SAMSAT BANJARNEGARA )


FILM DIPUTAR :

1. KEMBANG API
Perjalan seorang pria menuju pesta gadis impiannya di tengah dentuman kembang api ibukota.
Sutradara : Tengku Iskhandar Dzulkarnain | Durasi : 19.00 | Produksi : Merah Kuning Film | Tahun Produksi : 2013 | Jakarta | Rating : 15+
2. MEKAR DI KOLAM
Wisnu dan Lakshmi adalah dua roh yang terus bereinkarnasi dari waktu ke waktu.
Sutradara : Raphael Wregas Banuteja | Durasi : 17.00 | Produksi : Angkura | Tahun Produksi : 2013 | Jakarta | Rating : 15+
3. SD CARD 32GB
Seorang dokter dan detasemen khusus dikirim untuk menangani zombie-zombie yang menguasai kota. Film ini adalah hasil rekaman dari sebuah memory card yang tersisa.
Sutradara : Agung Bayu Permana | Durasi : 18.00 | Produksi : Linden Pictures | Tahun Produksi : 2013 | Jakarta | Rating : 15+
4. SORE HARI *(Screening Festival Film Solo 2013)
Kevin dan Reza bersahabat. Sore hari adalah waktunya bagi mereka bermain di luar.
Sutradara : Andrie Sasono | Durasi : 8.00 | Produksi : Rodhesia Film | Tahun Produksi : 2013 | Jakarta | Rating : 15+


DISKUSI FILMMAKER :

Tengku Iskhandar | Raphael Wregas Banuteja | Agung Bayu Permana | Andrie Sasono

 Silahkan datang!

GRATIS!


Minggu, 19 Mei 2013

[KELAS GRATIS] Daftar!



Godonggedhang membuka kelas dengan target utama adalah pelajar di Banjarnegara. Tapi hal siapapun bisa mengikuti kelas ini. Kelas yang dibuka antara lain :

- Kelas Menulis
- Kelas Film Video
- Kelas Fotografi
- Kelas Seni Visual

Silahkan jika berminat mendownload formulir pendaftaran DISINI
Lalu silahkan kirim email ke godonggedhangbanjarnegara@gmail.com dengan subjek " Daftar Kelas " 
atau juga bisa dengan menyerahkan langsung ke manajemen godonggedhang dengan CP :
Adhirga Romadhona ( 089680121917 )
Witryadi ( 08562670286 )
Agung Karman ( 08988081869 / PIN BB 2972632B )

PALING LAMBAT TANGGAL 17 JUNI 2013

GRATIS!



Rabu, 15 Mei 2013

PROLOG

Artwork by Febrian Dony


Pada dasarnya seni adalah salah satu elemen dalam hidup yang paling sering digunakan dalam berbagai aspek kehidupan. Coba anda tengok disekitar anda, cukup disekitar anda. Kami mempercayai bahwa memulai hal yang kecil adalah sesuatu yang mulia. Banjarnegara ialah kota yang sangat kecil dengan populasi masyarakat yang lumayan banyak. Kami dari kota kecil dan melakukan hal-hal kecil lewat kesenian. Seni adalah dasar hidup kami, maka seni untuk semua dan semua memakai seni.

Salam hangat,
godonggedhang